to the 'W

Daisypath Wedding tickers

19 Jun 2015

Yangpa's List



Yangpa’s list

It’s kind of downbeat of life but We will not go down anyway =)

Di posting sebelumnya (baca sini) yang sangatt lama, sebelum Lorry lahir, waktu saya hamil. Saya perna bercerita tentang seru dan menantangnya kehamilan saya, dengan Lorry yang digembol kemana-mana, papa yang sakit, suami antara ada dan tiada, sekolah (tempat dimana kita messed up dengan prioritas). Kali ini tentang sakit papa.

2 tahun bukan waktu yang pendek untuk menikmati saat-saat kelahiran Lorry, ngelihat beberapa moment berharga datang, adek saya wisuda, dan banyak hal yang terjadi. 2 tahun buat papa menurut dokter2 yang merawat itu sudah luar biasa, diatas angka ‘rata-rata’. Alhamdulillah, terimakasih untuk Allah yang telah memberikan waktu sekian lama untuk tetap membina rasa sayang, cinta, dan kenangan-kenangan di keluarga kami.

Serangkaian terapi papa sudah sampai pada tahap maksimal, dosis maksimal, batas toksisisitas obat, dan kadang juga emosi papa yang lebi labil karena sakit lama. Setiap saat, dalam waktu 2 tahun terakhir sebenarnya kami berusaha untuk kejar-kejaran dengan penyakit papa. Kami tahu, dan saya tahu benar, ending untuk cancer tetap tidak baik, tapi kami berjuang untuk itu.
Sampai seminggu terakhir ini kondisi papa mulai turun. Nafsu makan mulai berkurang, lemah, ngantuk, aktifitas berkurang drastis dibanding sebelumnya. Kebetulan papa mengkonsumsi obat kemoterapi 2nd line yang terakhir, Stivarga. Dokter internist yang memberikan rekomendasi papa untuk mengkonsumsi obat ini juga bilang kalau obat ini jarang dipakai, kecuali untuk kasus yang resisten. Harganya juga ampuun, tapi kami selalu yakin kita g pernah tahu sebelum mencoba. Seminggu lebih papa mengkonsumsi obat ini, ternyata engga cukup untuk menangkal sel cancer papa.

So here we are…
Papa terkena encephalopati hepatic, suatu keadaan yang sering terjadi pada kasus cancer yang metastasis (menyebar) ke liver (hepar). Karena papa mengalami liver failure akibat penyebarannya tersebut, terjadilah ini semua. Papa jadi sulit untuk berkata-kata karena tenggorokan yang kering, lidah berasa sariawan, susah menelan, susah jalan, batuk ngikil, bleeding, bingungan. Perawatan papa menurut medis sekrang ini terbatas untuk menangani tiap keluhan papa dan mencegah progresifitas ke koma hepaticum … iya koma.
Seperti lingkaran yang tidak ada habisnya, ada bleeding, transfusi, diberi anti perdarahan, tapi diatas itu semua penyebab utama dari semua ini tidak bisa dikendalikan lagi.
Saya dan adik-adik bertekad untuk memberikan papa moment terbaik sekarang ini. Apa yang membuat papa senang, lega… kami berusaha supaya papa engga lagi fokus pada sakitnya.

We do make a list…
Daftar-daftar yang sekiranya bisa dilakukan selama papa dirawat di RS, selama papa masi baik, dan masih dapat merespon apa yang kami lakukan.
Saya, mama, adik2 tahu benar ending dari semua ini, yang kami tidak tahu kapan dan dengan detil proses sperti apa. Kami sedih? Pasti, itu sudah tidak bisa digambarkan dengan kata-kata. Walaupun diluar saya tenang, karena saya harus bisa menjelaskan secara benar dan kuat didepan mama dan adek-adek. Kita sedih, dan diam itu g akan merubah apapun lebih baik, dan waktu terus berjalan, jadi kami memutuskan melakukan sesuatu untuk papa. Akhirnya seperti apapun kisah ini, ketika kami sepakat untuk melakukan hal yang lebih  baik, kami rasa tidak ada ruginya. 

the list


The List
Cerita di blog ini adalah salah satu list itu. Sharing is caring. Apa yang terjadi di papa semoga tidak terjadi di orang lain. Papa waktu itu tidak memiliki body & health conscious yang cukup baik. Dari pola makan, pola hidup, menyikapi keluhan-keluhan tubuh yang sering tidak kita anggap serius, padahal hell yeah it’s deadly serious!
Tiba-tiba sudah pada terminal stage yang bahkan kami tidak tahu pasti kapan keluhan itu pertama kali muncul. Tiba-tiba? NOPE! Semua berproses, dari pre-cancer sampai cancer sebetulnya butuh waktu bertahun-tahun, belasan, bisa puluhan. Keluhan-keluhan smisal perubahan pola BAB, demam yang tidak jelas, yang kadang kita anggap sakit perut biasa. 

Saya bertekad untuk hidup lebih baik daripada orang tua saya, all the way. Tidak makan sembarangan, dan berusaha bikin pola yang lebih sehat untuk keluarga minis saya dengan ayah dan lorry (bapak2 terbiasa makan asal enak). Sehat itu investasi berharga, setelah semua yang saya alami sendiri, makan benar adalah cara berinvestasi kesehatan.
Foto Keluarga terakhir kami di RS
Papa suka mendongeng untuk kami ketika kecil. Saya sendiri adalah story tell freak, yang tidak bisa tidur sebelum cerita dibacakan. Ketika papa pulang dari kerja semalam apapun, kami selalu siap-siap dengan halaman ‘dongeng nina bobo’ di suara merdeka. Setelah kami besar, kami baru sadar cerita-cerita itu priceless. Hal yang paling kita ingat, kita pikirkan terus, adalah hal yang biasanya kita bawa ke mimpi, dan hal yang paling kita ingat biasanya hal terakhir yang kita lakukan… iyah, cerita sebelum tidur. Papa dan ceritanya membuat saya menjadi suka sejarah, cinta buku, dan jadi kepo terhadap tulisan-tulisan. Saya mulai membangun mimpi jadi arkeolog ketika papa bercerita tentang berbagai situs sejarah, mimpi jadi duta/ konsulat  ketika papa cerita tentang bung karno dan tokoh2 pergerakan nasional. Saya berlatih mewariskan ini ke Lorry, dimulai dengan kisah bebi sumil dan boneka2nya yang lain. Harapan saya Lorry bisa ndengerin satu dongeng yangpa belum bisa saya wujudkan. Smoga suatu saat bunda bisa nyeritain ini ke Lorry ya nak  waktu Lorry sudah bisa ngerti ;’(.

Sekarang papa tidak bisa lagi bercerita seperti dulu, tenggorokan papa kering, untuk bilang beberapa kata saja papa susah. It’s our turn to telling back the story, ndongengin papa tentang hal yang papa suka. Buku biografi tokoh nasional terbaru mungkin?

Setelah Lorry lahir, sy jadi tahu rasanya punya anak cewe, walaupun sy g seprotektif mama papa, walupun belum ada bayi cowo yang ngelirik ke Lorry waktu kami jalan bareng. Hal yang paling melegakan salah satunya adalah bisa mengantar anaknya ke finish line, entah itu pernikahan, pas punya cucu, pas wisuda. Jadi kami berpikir, memberikan kesempatan papa sekali lagi untuk melihat putrinya menikah semoga bisa menjadi kenangan membahagiakan buat papa. Seorang cewe butuh wali untuk menikah, disitulah papa mungkin merasa masih punya tanggung jawab yang ‘unfinisihed.
Pada Lorry yang  masih balita saja saya sering bilang pas dia tidur ‘Bunda pengen lihat adek lari pertama kali, jatuh cinta pertama kali, puber, nikah… semoga Allah ngasi kesempatan Bunda untuk ada di samping Lorry’. Itu momen emosional buat saya dan Lorry, apalagi buat papa dengan keadaan seperti ini.

Lorry adalah cucu pertama papa. Saya hamil 3 bulan ketika papa divonis cancer, dan selama itu pula Lorry ikut digembol ngalor ngidul nemeni papa terapi, kemo, operasi. Sejak Lorry sudah mulai bisa aktif berinteraksi dengan sekitarnya, jalan, lari, teriak, lompat-lompat. Tiap orang yang lihat pasti gemes pengen gendong, cubit2, ngajak dia nyanyi, ngegodain. Adalah heartbreaking moment buat papa, ketika papa g bisa gendong Lorry karena kuatir Lorry nendang stoma-nya. Atau waktu Lorry lari-lari ngegodain papa di kamar, narik2 tangan papa buat ngajak main, tapi papa terlalu lemah untuk beranjak dari tempat tidur . Mengajak Lorry bertemu dengan yangpa dalam keadaan yangpa bisa merespon ocehan dan sentuhan menjadi niatan saya sebelum papa dirawat. Allah punya rencana yang lebih baik, papa masuk ke RS dini hari karena bleeding di stomanya, padahal saya dan Lorry sudah siap-siap untuk pulang pagi harinya. Tidak ada cara lain mempertemukan papa dengan Lorry selain membawa bocah ini ke RS. 

Lorry is just a. beibi...
Lari kesana sini, panjat sana sini, ndeketin papa dengan andalan salam ‘dadada.... muacchhhh’. Papa masih menyadari kedatangan Lorry, walaupun responnya tidak seperti sebelum-sebelumnya. Alhamdulillah sempat foto bareng. Kami melakukan foto keluarga lebih awal dari yang kami rencanakan (kami berencana melakukannya Ramadhan ini, pas Ayah g jaga, onti, om semua ada). Semoga kemarin bukan yang terakhir papa bisa ndenger bawelnya Lorry.

Mendatangkan simbah (ayah papa)

Mendatangkan teman-teman dekat papa

Mencetak dan memasang foto2 bareng papa

Terus mendekatkan papa dengan dzikir

Kami bertekad untuk menyebarkan cancer awareness, karena semakin orang tau dan tidak tabu untuk berbagi tentang sakitnya, tentang sehat, tentang kesadaran diri.
Kami sedih ... tentu saja, tapi kami berusaha menjadikan sakit papa sebagai pembelajaran. Supaya engga ada lagi kejadian seperti papa, stidaknya  mengurangi kejadian cancer, karena makin banyak orang sadar sehat. 

I do typing this in tears, of course... better than do nothing in tears.
.... daftar ini terus berjalan...
.... yangpa kita tidak menyerah ya, kita ikhlas =)

#saat saya posting blog ini, papa sudah meninggal 3 hari yang lalu. Adik saya ijab di depan papa yang masih dipasang ventilator.

3 komentar:

  1. Allah Allah, a very strong heart family! #peluuuk

    insya Allah yangpa husnul khotimah mba :) aamiiin

    BalasHapus
  2. turut berduka cita ya mbak indra dan puput..smoga ayahanda khusnul khotimah..ayahku juga meninggal 3 juli 2015 krn chf smoga kita sama2 dberi kekuatan utk mncapai cita2 ayah kita yg blm tercapai...dari ira putrinya pak cahyo shbat puput smp.

    BalasHapus
  3. turut berduka cita ya mbak indra dan puput..smoga ayahanda khusnul khotimah..ayahku juga meninggal 3 juli 2015 krn chf smoga kita sama2 dberi kekuatan utk mncapai cita2 ayah kita yg blm tercapai...dari ira putrinya pak cahyo shbat puput smp.

    BalasHapus