Yangpa’s list
It’s
kind of downbeat of life but
We will not go down anyway =)
Di
posting sebelumnya (baca sini) yang sangatt lama, sebelum Lorry lahir, waktu saya hamil.
Saya perna bercerita tentang seru dan menantangnya kehamilan saya, dengan Lorry
yang digembol kemana-mana, papa yang sakit, suami antara ada dan tiada, sekolah
(tempat dimana kita messed up dengan prioritas). Kali ini tentang sakit papa.
2
tahun bukan waktu yang pendek untuk menikmati saat-saat kelahiran Lorry,
ngelihat beberapa moment berharga datang, adek saya wisuda, dan banyak hal yang
terjadi. 2 tahun buat papa menurut dokter2 yang merawat itu sudah luar biasa,
diatas angka ‘rata-rata’. Alhamdulillah, terimakasih untuk Allah yang telah
memberikan waktu sekian lama untuk tetap membina rasa sayang, cinta, dan
kenangan-kenangan di keluarga kami.
Serangkaian
terapi papa sudah sampai pada tahap maksimal, dosis maksimal, batas
toksisisitas obat, dan kadang juga emosi papa yang lebi labil karena sakit
lama. Setiap saat, dalam waktu 2 tahun terakhir sebenarnya kami berusaha untuk
kejar-kejaran dengan penyakit papa. Kami tahu, dan saya tahu benar, ending
untuk cancer tetap tidak baik, tapi kami berjuang untuk itu.
Sampai
seminggu terakhir ini kondisi papa mulai turun. Nafsu makan mulai berkurang,
lemah, ngantuk, aktifitas berkurang drastis dibanding sebelumnya. Kebetulan
papa mengkonsumsi obat kemoterapi 2nd line yang terakhir, Stivarga.
Dokter internist yang memberikan rekomendasi papa untuk mengkonsumsi obat ini
juga bilang kalau obat ini jarang dipakai, kecuali untuk kasus yang resisten.
Harganya juga ampuun, tapi kami selalu yakin kita g pernah tahu sebelum mencoba.
Seminggu lebih papa mengkonsumsi obat ini, ternyata engga cukup untuk menangkal
sel cancer papa.
So here we are…
Papa
terkena encephalopati hepatic, suatu keadaan yang sering terjadi pada kasus
cancer yang metastasis (menyebar) ke liver (hepar). Karena papa mengalami liver
failure akibat penyebarannya tersebut, terjadilah ini semua. Papa jadi sulit
untuk berkata-kata karena tenggorokan yang kering, lidah berasa sariawan, susah
menelan, susah jalan, batuk ngikil, bleeding, bingungan. Perawatan papa menurut
medis sekrang ini terbatas untuk menangani tiap keluhan papa dan mencegah
progresifitas ke koma hepaticum … iya koma.
Seperti
lingkaran yang tidak ada habisnya, ada bleeding, transfusi, diberi anti
perdarahan, tapi diatas itu semua penyebab utama dari semua ini tidak bisa
dikendalikan lagi.
Saya
dan adik-adik bertekad untuk memberikan papa moment terbaik sekarang ini. Apa
yang membuat papa senang, lega… kami berusaha supaya papa engga lagi fokus pada
sakitnya.
We do make a list…
Daftar-daftar
yang sekiranya bisa dilakukan selama papa dirawat di RS, selama papa masi baik,
dan masih dapat merespon apa yang kami lakukan.
Saya,
mama, adik2 tahu benar ending dari semua ini, yang kami tidak tahu kapan dan
dengan detil proses sperti apa. Kami sedih? Pasti, itu sudah tidak bisa
digambarkan dengan kata-kata. Walaupun diluar saya tenang, karena saya harus
bisa menjelaskan secara benar dan kuat didepan mama dan adek-adek. Kita sedih,
dan diam itu g akan merubah apapun lebih baik, dan waktu terus berjalan, jadi
kami memutuskan melakukan sesuatu untuk papa. Akhirnya seperti apapun kisah
ini, ketika kami sepakat untuk melakukan hal yang lebih baik, kami rasa tidak ada ruginya.
![]() |
| the list |
The List
Cerita
di blog ini adalah salah satu list itu. Sharing is caring. Apa yang terjadi di
papa semoga tidak terjadi di orang lain. Papa waktu itu tidak memiliki body
& health conscious yang cukup baik. Dari pola makan, pola hidup, menyikapi
keluhan-keluhan tubuh yang sering tidak kita anggap serius, padahal hell yeah
it’s deadly serious!
Tiba-tiba
sudah pada terminal stage yang bahkan kami tidak tahu pasti kapan keluhan itu
pertama kali muncul. Tiba-tiba? NOPE! Semua berproses, dari pre-cancer sampai
cancer sebetulnya butuh waktu bertahun-tahun, belasan, bisa puluhan.
Keluhan-keluhan smisal perubahan pola BAB, demam yang tidak jelas, yang kadang
kita anggap sakit perut biasa.
Saya
bertekad untuk hidup lebih baik daripada orang tua saya, all the way. Tidak
makan sembarangan, dan berusaha bikin pola yang lebih sehat untuk keluarga
minis saya dengan ayah dan lorry (bapak2 terbiasa makan asal enak). Sehat itu
investasi berharga, setelah semua yang saya alami sendiri, makan benar adalah
cara berinvestasi kesehatan.
![]() |
| Foto Keluarga terakhir kami di RS |
Papa suka
mendongeng untuk kami ketika kecil. Saya sendiri adalah story tell
freak, yang tidak bisa tidur sebelum cerita dibacakan. Ketika papa pulang dari
kerja semalam apapun, kami selalu siap-siap dengan halaman ‘dongeng nina bobo’
di suara merdeka. Setelah kami besar, kami baru sadar cerita-cerita itu
priceless. Hal yang paling kita ingat, kita pikirkan terus, adalah hal yang
biasanya kita bawa ke mimpi, dan hal yang paling kita ingat biasanya hal
terakhir yang kita lakukan… iyah, cerita sebelum tidur. Papa dan ceritanya
membuat saya menjadi suka sejarah, cinta buku, dan jadi kepo terhadap
tulisan-tulisan. Saya mulai membangun mimpi jadi arkeolog ketika papa bercerita
tentang berbagai situs sejarah, mimpi jadi duta/ konsulat ketika papa cerita tentang bung karno dan
tokoh2 pergerakan nasional. Saya berlatih mewariskan ini ke Lorry, dimulai
dengan kisah bebi sumil dan boneka2nya yang lain. Harapan saya Lorry bisa
ndengerin satu dongeng yangpa belum bisa saya wujudkan. Smoga suatu saat bunda bisa
nyeritain ini ke Lorry ya nak waktu
Lorry sudah bisa ngerti ;’(.
Sekarang
papa tidak bisa lagi bercerita seperti dulu, tenggorokan papa kering, untuk
bilang beberapa kata saja papa susah. It’s our turn to telling back the story,
ndongengin papa tentang hal yang papa suka. Buku biografi tokoh nasional
terbaru mungkin?
Setelah
Lorry lahir, sy jadi tahu rasanya punya anak cewe, walaupun sy g seprotektif
mama papa, walupun belum ada bayi cowo yang ngelirik ke Lorry waktu kami jalan
bareng. Hal yang paling melegakan salah satunya adalah bisa mengantar anaknya
ke finish line, entah itu pernikahan, pas punya cucu, pas wisuda. Jadi kami
berpikir, memberikan kesempatan papa sekali lagi untuk melihat putrinya menikah
semoga bisa menjadi kenangan membahagiakan buat papa. Seorang cewe butuh wali
untuk menikah, disitulah papa mungkin merasa masih punya tanggung jawab yang
‘unfinisihed.
Pada
Lorry yang masih balita saja saya sering
bilang pas dia tidur ‘Bunda pengen lihat adek lari pertama kali, jatuh cinta
pertama kali, puber, nikah… semoga Allah ngasi kesempatan Bunda untuk ada di
samping Lorry’. Itu momen emosional buat saya dan Lorry, apalagi buat papa
dengan keadaan seperti ini.
Lorry
adalah cucu pertama papa. Saya hamil 3 bulan ketika papa divonis cancer, dan
selama itu pula Lorry ikut digembol ngalor ngidul nemeni papa terapi, kemo,
operasi. Sejak Lorry sudah mulai bisa aktif berinteraksi dengan sekitarnya,
jalan, lari, teriak, lompat-lompat. Tiap orang yang lihat pasti gemes pengen
gendong, cubit2, ngajak dia nyanyi, ngegodain. Adalah heartbreaking moment buat
papa, ketika papa g bisa gendong Lorry karena kuatir Lorry nendang stoma-nya.
Atau waktu Lorry lari-lari ngegodain papa di kamar, narik2 tangan papa buat
ngajak main, tapi papa terlalu lemah untuk beranjak dari tempat tidur . Mengajak
Lorry bertemu dengan yangpa dalam keadaan yangpa bisa merespon ocehan dan
sentuhan menjadi niatan saya sebelum papa dirawat. Allah punya rencana yang
lebih baik, papa masuk ke RS dini hari karena bleeding di stomanya, padahal
saya dan Lorry sudah siap-siap untuk pulang pagi harinya. Tidak ada cara lain
mempertemukan papa dengan Lorry selain membawa bocah ini ke RS.
Lorry is just a. beibi...
Lari kesana sini, panjat sana sini, ndeketin papa dengan andalan salam
‘dadada.... muacchhhh’. Papa masih menyadari kedatangan Lorry, walaupun
responnya tidak seperti sebelum-sebelumnya. Alhamdulillah sempat foto bareng.
Kami melakukan foto keluarga lebih awal dari yang kami rencanakan (kami
berencana melakukannya Ramadhan ini, pas Ayah g jaga, onti, om semua ada).
Semoga kemarin bukan yang terakhir papa bisa ndenger bawelnya Lorry.
Mendatangkan
simbah (ayah papa)
Mendatangkan
teman-teman dekat papa
Mencetak dan
memasang foto2 bareng papa
Terus
mendekatkan papa dengan dzikir
Kami bertekad untuk menyebarkan cancer awareness, karena
semakin orang tau dan tidak tabu untuk berbagi tentang sakitnya, tentang sehat,
tentang kesadaran diri.
Kami sedih ... tentu saja, tapi kami berusaha menjadikan sakit papa sebagai
pembelajaran. Supaya engga ada lagi kejadian seperti papa, stidaknya mengurangi kejadian cancer, karena makin
banyak orang sadar sehat.
I do typing this in tears, of course... better than do nothing in tears.
.... daftar ini terus berjalan...
.... yangpa kita tidak menyerah ya, kita ikhlas =)
#saat saya posting blog ini, papa sudah meninggal 3 hari yang lalu. Adik
saya ijab di depan papa yang masih dipasang ventilator.


Allah Allah, a very strong heart family! #peluuuk
BalasHapusinsya Allah yangpa husnul khotimah mba :) aamiiin
turut berduka cita ya mbak indra dan puput..smoga ayahanda khusnul khotimah..ayahku juga meninggal 3 juli 2015 krn chf smoga kita sama2 dberi kekuatan utk mncapai cita2 ayah kita yg blm tercapai...dari ira putrinya pak cahyo shbat puput smp.
BalasHapusturut berduka cita ya mbak indra dan puput..smoga ayahanda khusnul khotimah..ayahku juga meninggal 3 juli 2015 krn chf smoga kita sama2 dberi kekuatan utk mncapai cita2 ayah kita yg blm tercapai...dari ira putrinya pak cahyo shbat puput smp.
BalasHapus