STORY
OF BEING MOMMY
Jadi ibu
ternyata tidak gampang sodarah sodarah, jadi bagi bapak2 yang punya istri,
silakan melihat ke istri masing masing perjuangan mereka melahirkan,
menggantikan popok, melayani polah tingkah anak Anda, niscaya u’ll
be so thankful to ur mommy.
Ini postingan
pertama sy setelah nikah (atau punya anak) entahlah, waktu rasanya cepetttt
berputar. Karena kesibukan sy yang luar biasa dalam angon bebi, menulis agenda
yang dulu jadi ritual sekarang terabaikan, karena emak ini memilih untuk
browsing browsing tentang menu makan bebi, kenapa gigi Lorry belum tumbuh di
usia yang semakin lanjut (10 bulan ndukkk… dan NO TEETH!! Hik hik), belanja
keperluan rumah, belanja online demi ekonomisasi, belum lagi kalo si ayah kirim
SOS butuh bantuan. Demikian indahnya hidup saya =)
Ada faktor
lain si yah, yaitu status ‘menikah’ membuat saya mau engga mau membatasi
celotehan ngalor ngidul for the shake of kepentingan X, Y, Z. dulu saya menulis
Cuma bawa diri, sekarang membawa banyak hal. Somehow married changes you, saya
tetap saya, yang spontan, absurd, aneh inside. Tapi sebagai seorang istri dan
emak yang baik, pembawaan harus tetap mantap haha.
NO MORE ME TIME
Ada lah ya
saat saat saya punya waktu sendiri, skitar 15-30 menit, sebelum akhirnya si
bebi berteriak, mumbling, atau keinget ada gawean emak yang belum
terselesaikan. Jadi ibu, dan tinggal sendiri membuat kita benar benar belajar
maunya kita apa, mengenali seberapa tingkat stress kita. Seru dan cape. Jadi
istri merubah pemikiran saya, jadi ibu apalagi.
Dandan sambil
perjalanan ke kantor, bangun tengah malam untuk nyiapin keperluan sarapan si
bebi dan bapaknya besok hari, karena belum ada ART permanen d rumah. Puasss
jadi ibu, karena sy bisa tahu detil
rumah, ngamatin lorry, belajar sabar, belajar bijak #hadeh. Ada saat
saat dimana pengen rasanya jadi singa (dari penampakan sudah 11-12, tinggal
berubahhhhh) karena kerjaan rumah itu ternyata hectic bu ibu.
Sy termasuk
orang rumahan, yang di hari libur betah ngabisin waktu dirumah, untuk ngusilin
rumah, tidur, nonton, ngobrol jam jaman sama adik2 saya sambil ngemil, ngobrak
abrik dapur. Dan ini kebalikan dengan si Ayah. Buat beliau, liburan = hanging
out, quality time artinya jalan jalan keluar dari rumah. Dan itu yang selama
ini kita lakukan=> pulang jalan jalan cape => tepar => rumah acakadut
=> emak kembali berbenah => ayah melanjutkan tidur dengan alibi ‘menemani
nona bebi’ fiuhhhh…
Cerita
berlanjut ayah tidur => nona bebi engga betah di kasur => teriak2,
merambat keluar kamar => emak beres2 nyambi
menjinakkan nona bebi.
Disaat-saat
seperti itu, bingung mo emosi dengan siapa, bagaimana. Sama si Ayah? Dengan
pembelaan ‘cape, ngantuk” CASE CLOSED! Duh
gustiiiii… apakah kerjaan-kerjaan domestik memang ditakdirkan untuk wanita
saja, apakah Laki-laki tidak ditakdirkan
untuk mengganti popok? Apakah laki-laki dan popok merupakan kontraindikasi?
Pikir saya, karena tiap orang mengalami fase ‘pake popok’ jadi tiap orang bisa
bersahabat dan deal with POPOKS, karena tiap orang mandi, maka tidak masalah
sesekali lelaki melucuti baju anak (bebi)
cewe mereka, trus dimandiin. Kenapa dengan lelaki dan dapur? Lelaki dan
popok?
Saya engga
anti mengerjakan kerjaan laki2 sodara2. Naik meja buat ngeganti lampu, mbenerin jemuran, keran air, nyemen
lantai kalau perlu (Terimakasih kepada Youtube dan Google yang amat membantu
dengan tutorial tutorialnya =)).
Tanpa ART
ternyata membuka tabir siapa kami sebenarnya, emaknya Lorry ternyata seorang
tukang serabutan hahaha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar