to the 'W

Daisypath Wedding tickers

9 Jan 2015

STORY OF BEING MOMMY

STORY OF BEING MOMMY

Jadi ibu ternyata tidak gampang sodarah sodarah, jadi bagi bapak2 yang punya istri, silakan melihat ke istri masing masing perjuangan mereka melahirkan, menggantikan popok, melayani polah tingkah anak Anda, niscaya u’ll be so thankful to ur mommy.

Ini postingan pertama sy setelah nikah (atau punya anak) entahlah, waktu rasanya cepetttt berputar. Karena kesibukan sy yang luar biasa dalam angon bebi, menulis agenda yang dulu jadi ritual sekarang terabaikan, karena emak ini memilih untuk browsing browsing tentang menu makan bebi, kenapa gigi Lorry belum tumbuh di usia yang semakin lanjut (10 bulan ndukkk… dan NO TEETH!! Hik hik), belanja keperluan rumah, belanja online demi ekonomisasi, belum lagi kalo si ayah kirim SOS butuh bantuan. Demikian indahnya hidup saya =)

Ada faktor lain si yah, yaitu status ‘menikah’ membuat saya mau engga mau membatasi celotehan ngalor ngidul for the shake of kepentingan X, Y, Z. dulu saya menulis Cuma bawa diri, sekarang membawa banyak hal. Somehow married changes you, saya tetap saya, yang spontan, absurd, aneh inside. Tapi sebagai seorang istri dan emak yang baik, pembawaan harus tetap mantap haha.

NO MORE ME TIME

Ada lah ya saat saat saya punya waktu sendiri, skitar 15-30 menit, sebelum akhirnya si bebi berteriak, mumbling, atau keinget ada gawean emak yang belum terselesaikan. Jadi ibu, dan tinggal sendiri membuat kita benar benar belajar maunya kita apa, mengenali seberapa tingkat stress kita. Seru dan cape. Jadi istri merubah pemikiran saya, jadi ibu apalagi.

Dandan sambil perjalanan ke kantor, bangun tengah malam untuk nyiapin keperluan sarapan si bebi dan bapaknya besok hari, karena belum ada ART permanen d rumah. Puasss jadi ibu, karena sy bisa tahu detil  rumah, ngamatin lorry, belajar sabar, belajar bijak #hadeh. Ada saat saat dimana pengen rasanya jadi singa (dari penampakan sudah 11-12, tinggal berubahhhhh) karena kerjaan rumah itu ternyata hectic bu ibu.

Sy termasuk orang rumahan, yang di hari libur betah ngabisin waktu dirumah, untuk ngusilin rumah, tidur, nonton, ngobrol jam jaman sama adik2 saya sambil ngemil, ngobrak abrik dapur. Dan ini kebalikan dengan si Ayah. Buat beliau, liburan = hanging out, quality time artinya jalan jalan keluar dari rumah. Dan itu yang selama ini kita lakukan=> pulang jalan jalan cape => tepar => rumah acakadut => emak kembali berbenah => ayah melanjutkan tidur dengan alibi ‘menemani nona bebi’ fiuhhhh…
 

Cerita berlanjut ayah tidur => nona bebi engga betah di kasur => teriak2, merambat keluar kamar => emak beres2 nyambi  menjinakkan nona bebi.

Disaat-saat seperti itu, bingung mo emosi dengan siapa, bagaimana. Sama si Ayah? Dengan pembelaan ‘cape, ngantuk” CASE CLOSED! Duh gustiiiii… apakah kerjaan-kerjaan domestik memang ditakdirkan untuk wanita saja, apakah Laki-laki tidak ditakdirkan untuk mengganti popok? Apakah laki-laki dan popok merupakan kontraindikasi? Pikir saya, karena tiap orang mengalami fase ‘pake popok’ jadi tiap orang bisa bersahabat dan deal with POPOKS, karena tiap orang mandi, maka tidak masalah sesekali lelaki melucuti baju anak (bebi)  cewe mereka, trus dimandiin. Kenapa dengan lelaki dan dapur? Lelaki dan popok?

Saya engga anti mengerjakan kerjaan laki2 sodara2. Naik meja buat ngeganti  lampu, mbenerin jemuran, keran air, nyemen lantai kalau perlu (Terimakasih kepada Youtube dan Google yang amat membantu dengan tutorial tutorialnya =)).

Tanpa ART ternyata membuka tabir siapa kami sebenarnya, emaknya Lorry ternyata seorang tukang serabutan hahaha.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar