October, 1st 2013
I’m 4 going to 5 mos
preggo
My dad had late stage
cancer for 3 mos
My hubbie goin to leave me for school
soon (if Alloh willing)
2 dari 3 hal terbesar
dalam hidup sy low rate expectation, jadi sy belajar untuk tidak berharap dari
hal apapun sekarang (still fighting though).
Hidup menjadi sangat
berbeda dari sejak posting terakhir, sejak sy menikah, sejak ayah sy sakit,
while my preggo doesn’t change me much.
Alloh punya rahasia, dan
kita punya rollercoaster life, tapi sy pikir g pernah ada yang membayangkan
berada pada titik ini.
Pertama, hamil. Euforia
hanya terasa di awal, masa-masa emesis jg tidak begitu terasa karena teralihkan
hal-hal lain. Awalnya saya dan suami sepakat untuk ANC (pemeriksaan kehamilan)
sendiri saja, selama tidak ada permasalahan yang berarti. Sampai sekarang pun
saya belum punya jadwal ANC yang jelas. Baru mulai bulan kemarin sy berpikir,
kt ke dokter bukan hanya butuh mereka secara keilmuan, atau periksa kalau ada
apa2, tapi untuk melihat ibu2 berperut besar yang diantar suaminya periksa. Iya,
secara psikis kami perlu menumbuhkan sense of parenting (i guess...). Mungkin
dengan kontrol dan antri dengan banyak pasangan ortu yang lain, akan membuat
kami lebi merasakan kalau ini akan menjadi suatu proses yang benar2 berbeda.
Semoga...
Kedua, ayah sakit. Beliau
tau sakit serius while i’m getting my 2nd mo pregnancy. Jangan ditanya
bagaimana rasanya ketika orang terdekat kita dinyatakan late stage ca. Jangankan
late stage, hal kecil berhubungan orang yang kita sayangi pun bisa jadi serious
case to say. Karena sy terkadang plain, dan nahan emosi belakangan. Sewaktu vonis
itu datang, rasanya hampir sama seperti mendengar ‘Ok... ayah anda sakit asam
urat, atau flu, atau yang lain’ dan sejak saat itu sy berasa mimpi ketika
terbangun dan mulai sadar ketika akan tidur. Mungkin Alloh sengaja memberikan
ritme ini supaya sy lebih bisa menjalaninya (karena kita tidak merasakan
sesuatu secara penuh ketika kita
bermimpi).
Sy bisa tenang ketika
menghadapi apa kata dokter tentang sakit ayah, menjelaskan ke orang lain
bagaimana riwayat sakit ayah, bahkan bercerita kalau sy pny faktor resiko dengan
riwayat colitis ulceratif sebelumnya. Malamnya semua pecah... sakit, sedih,
tangis.
Then... my hubbie’s
school. Sekolah lanjutan dokter adalah program yang menguras sgala hal pada beberapa pusat pendidikan. Sy mulai
bersiap tidak menggantungkan ke orang, ke suami sy sekalipun. Karena kalau
Alloh memang mengizinkan, setelah si adek lahir, sy hrs belajar mengurus sendiri
dan g mengandalkan keberadaan org2 terdekat sy. Akan tambah berat klo sy g
belajar melepas dan masih mengharap.
Hal yang membuat kita
sering kecewa, adalah krn kita punya ekspektasi. Sama halnya ketika seorang
wanita menikah, maka akan muncul harapan dan keinginan yang sebelumnya ga ada. Sy
pun demikian. Status membuat kt berharap pada sesuatu. Status sebagai seorang
anak, sebagai seorang istri. Alasan kenapa sy g mo bermanja manja atau terlalu
berpikir emak2 hamil, supaya sy g lebih sakit nantinya, ketika sy membutuhkan
dan mereka engga bisa. Ibu sy bisa melakukannya, walaupun memang ayah sy selalu
ada ketika mendampingi sy dan adik2 sy kecil. Ayah kerja pindah pindah jauh
dari rumah sejak adik terkecil sy masuk TK, dan ibu lah yang kerja sekaligus
mengurus segala hal kami bertiga.
Semoga Alloh menjadikan
sy orang yang lebih ikhlas.







